Minggu, 26 Juni 2022

One Step

One step, continue the step, walk, and reach the goal.

It all started with the growth of the legs that supported me.

Support me from being a nobody, so I can get to know the world.


No, I was nothing before I grew up.

I'm not a friend of anyone they know.

I am only with those who grow me so that I can walk.

Starting my steps with one step.

A step that does not know where to go, left or right, right or wrong.

I choose to keep going wherever I want.


Wrong! It turns out that this time I was wrong.

I just realized, and if only I could repeat my steps. I will definitely repeat.

But I've chosen every step I take, I choose for myself.

Without knowing what is wrong, without knowing what is right.

I've certainly thought about my options.

I'm still stupid and sorry for his own choice.


This is the reality and choice of life.

Nothing to be sorry about really.

Even if my choice is wrong.

All of this is more and much better than I have ever stepped in once.

Everything has meaning and learning.


I just need to breathe from my last misstep.

So that I don't go wrong again with the same steps from my previous mistakes.

Senin, 14 Maret 2022

Nowadays

Heyyy! Sudah 11 bulan lamanya semenjak tulisan umum terakhirku terbit. Menghilang dalam pikiran dan terhanyut dengan (yang katanya) keproduktifan, akhirnya bisa kembali lagi menyelam bersama kesendirian.

Wajar, saat ini hanya dua pertemuan mata kuliah yang aku ambil di semester delapan. Semester akhir yang katanya selalu menjadi perjuangan akhir mahasiswa untuk menuntaskan kewajibannya selama kuliah. Mana peduli, aku juga berniat untuk langsung melanjutkan studi ke S2 Teknik Lingkungan terbaik dan kembali lagi berkuliah, harapku. Menjadi yang paling tua di organisasi pecinta alam (Astacala) membuatku semakin nyaman berada disini bersama adik-adik kesayanganku. Terlebih saat ini aku bertanggung jawab untuk mengatur tahapan pendidikan dan latihan mereka. Rasanya ini menjadi rumah utamaku, sekretariat.

Tiada waktu tanpa bergerak, berantakan (karena terus bergerak), selalu ada hal yang dibahas setiap saat, tak kenal siapa dirimu (pasti ada ledekan). Begitu kira-kira suasana sekretariat ini, rumah utamaku selama di Bandung. Lama sudah aku tak pulang ke rumah keluargaku di Depok, sekalinya pulang juga hanya menumpang tidur untuk melanjutkan bersilaturahmi ke sekretariat Mapala UI sejak bulan lalu. Sisanya, berkeliling kota jogja-lombok-lampung dan kota bandung. Yaa, beginilah kehidupanku sekarang. Entah bisa dikatakan sudah mendapatkan jati diri dalam bidang lingkungan atau belum karena aku yang awalnya selalu berkutat pada dunia IT sejak sekolah.

Tentang pasangan? Entahlah, sudah lama aku tak berpacaran karena mungkin terlalu lama juga berkutat dalam (yang katanya) keproduktifan ini. Bukan berarti tidak suka perempuan juga, akhir-akhir ini banyak sekali wanita yang aku kagumi. Karena mungkin hasrat untuk berpasangan yang meningkat juga membuatku mudah sekali merasakan suka. Tapi pada akhirnya selalu terbantahkan dengan logika dan menyimpulkannya menjadi “kagum”. Belajar dari yang terbenak dalam pemikiranku sendiri, aku memang tidak ingin berpasangan karena menurutku level berpasangan yang sesungguhnya adalah menikah. Bukan berpacaran yang hanya semakin membuat fokusku teralihkan. Semua sudah terjawab dengan umurku saat ini (21) yang belum siap untuk bertanggung jawab atas pasanganku kelak.

Banyak cerita dan harapan yang tertanam dalam setiap pribadi. Menyatu dalam rasa dan membaginya bersama-sama di satu wadah. Mungkin ini bukan pilihan sempurna untuk dipilih, bukan juga sebuah kesalahan yang harus disesali.

Mari kembali nikmati bersama segala proses yang terjadi dan hadapi segala keraguan yang menghalangi.

Rabu, 14 April 2021

Goals

Hari baru, harapan baru. Sebuah goals untuk memulai hari yang terus-menerus dijalani mau-tidak mau suka-tidak suka.

Sudah banyak perencanaan yang dibuat olehku untuk hari-hari bahkan beberapa tahun ke depan yang harus dicapai dengan progress tiap harinya. Tapi memang, manusia hanya berhak merencanakan, selebihnya Tuhan yang menentukan. Aku hanya berharap dalam memulai hari baru yaitu aku ingin menikmati dengan sepenuhnya. Tanpa menyesal dengan apa yang telah dilalui kemarin, tanpa tertekan dengan apa yang akan terjadi besok. Sangat sulit untuk bisa seperti itu, dan yang paling mudah menikmatinya adalah dengan tidur tenang.

Penyesalan terbesarku adalah aku selalu tidak bisa mengontrol perasaanku ketika logikaku sudah matang memilih sesuatu sikap. Aku yang terlalu sensitif akan perasaan selalu menjadi boomerang terhadap mood maupun semangat untuk menjalani hari. Tantanganku selalu berkutat dengan hal tersebut tiap harinya. Aku selalu tidak bisa menutupinya dengan sikap berpura-pura. Aku lebih memilih jujur dengan perasaanku, tetapi aku juga tidak berani untuk mengambil keputusan yang sudah dipikirkan dengan logika. Aku merasa orang terlemah yang selalu mengatakan orang lain lemah.

Penekanan terberatku adalah aku yang selalu berekspetasi terhadap sesuatu selalu dikecewakan karena aku tidak mampu memenuhi targetnya. Pada akhirnya, aku menyia-nyiakan hariku disaat itu dan selalu berpikir berlebihan. Aku selalu menuntut setiap hal untuk ada jawabannya pada saat itu juga.

Sebenarnya dalam menjalani hari mudah untuk dilogikakan. Melakukan kewajiban yang sudah ditetapkan dalam diri dan tidak menuntut hak orang lain dalam memilih pilihannya. Dan hal bodoh yang aku sadari tetapi masih aku lakukan adalah aku masih berharap dengan orang-orang disekitarku. Ya, kutipan dari Ali bin Abi Thalib tentang pahitnya kehidupan dan yang paling pahit adalah berharap kepada manusia tidak pernah aku dengarkan.

Semua perjalanan ini begitu berwarna, warna kusam yang kadang membuatku lelah menjalani hari. Tetapi, lebih baik merasakan sesuatu yang mengecewakan untuk menjadikannya pelajaran yang lebih baik. Dibanding tidak merasakan apapun atau hampa, bukan?

Nikmati apa yang bisa dinikmati, dan pelajari apa yang bisa dipelajari. -someone


Minggu, 28 Maret 2021

Sebuah Misi

Melanjutkan tulisan sebelumnya yang berjudul "Tantanganku", rasanya hambar kalau hanya sekadar teoritis saja melalui kata-kata keresahan tanpa aktualisasi.

Melanjutkan pendidikan kuliah pada jurusan yang sama dan selalu aku tekuni sejak kecil, yaitu dunia IT. Aku berstatus sebagai mahasiswa jurusan sistem informasi saat ini. Namun seiring berjalannya waktu, aku justru malah lebih giat dalam kegiatan organisasi mahasiswa pecinta alam. Awalnya tentu hanya ingin menikmati alam dengan mendaki gunung biasa seperti pernah aku lakukan semasa sekolah dahulu. Semakin dalam menekuni pendidikan dasar dan lanjut di organisasi tersebut semakin membuatku tenggelam dalam jati diriku.

Banyak hal berarti, yang tak mungkin kujelaskan satu-persatu dalam tulisan ini. Satu yang membuatku tersadar dengan kapasitasku sebagai pecinta alam yang seharusnya terus mempertahankan kelestarian bumi ini. Aku selalu dituntut untuk tahu arti penting segala hal yang dilakukan dan apa dampaknya kepada lingkungan. Mulai dari tidak memakai sedotan, membuang sampah, menanam pohon hingga berkampanye terhadap konservasi bumi.

Lelah! Rasanya melakukan itu semua namun tidak berpengaruh juga kepada kelestarian bumi jika pada akhirnya yang merusak adalah pabrik-pabrik besar mencemar air, pembakaran hutan sembarang mencemar udara, deforestasi mencemar tanah. Kami yang berteriak-teriak pada lingkungan yang kami lihat dengan mata kepala sendiri di depan mata, tak punya hak suara besar dalam pengambil keputusan untuk didengarkan.

Aku yang terdahulu memutuskan untuk melanjutkan rencana hidupku setelah lulus kuliah sarjana dengan melanjutkan pendidikan magister manajemen, meninggalkannya demi didengarkan suaraku atas keresahan semua ini. Mau tidak mau memang harus terjerumus kedalam pemerintahan sebagai pengambil kebijakan dalam sebuah keputusan.

Jika ada tindak kriminal di sekitar rumah kita, siapa yang disalahkan? Jelas penegak keamanan setempat yang pada umumnya adalah polisi. Namun jika ada pencemaran lingkungan di sekitar rumah kita, siapa yang disalahkan? Warga? Atau pabrik yang mencemar? Jelas pemberi izin!

Inilah yang membakar semangatku untuk terjun kedalam pemerintahan yang mempunyai suara lebih dalam kelestarian alam. Aku selalu bersemangat untuk melanjutkan pendidikan sarjanaku ke Jurusan Teknik Lingkungan ternama agar bisa dan mempunyai kapabilitas dalam jabatan struktural tersebut. Sebuah misi kecil yang digaungkan dari hal kecil pula yang semoga terus membesar dan berdampak pada masa depan yang bisa mempertahankan lebih lama kelestarian alam. Inilah sebuah misiku dalam kehidupan yang entah akan jadi seperti apa.

Walaupun bukan aku yang memang akan mengemban tugas dan tanggung jawab ini dikemudian hari, setidaknya adik-adikku di organisasi dan atau kalian yang membaca tulisan ini bisa memiliki visi yang sama denganku dan tentunya dengan capaian misi kalian masing-masing.